Selasa, 16 April 2013

TUGAS 3 PERSPEKTIF KESEHATAN TERHADAP NILAI LINGKUNGAN



TUGAS INDIVIDU NILAI DAN
ETIKA LINGKUNGAN


PERSPEKTIF KESEHATAN TERHADAP
NILAI-NILAI LINGKUNGAN
 

Disusun oleh
Neni Riyanti
( NPM : 121310110032)
Email : neniriyanti75@gmail.com




Dosen Penanggung Jawab :
Prof. Dr. Ir. H. Supli Effendi Rahim, M.Sc





PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2013



BAB I

PENDAHULUAN
1.1.       LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan unsur yang sangat berharga dalam kehidupan manusia. Kesehatan yang dialami seseorang memiliki keterkaitan yang erat dengan lingkungan. Menurut Anies (2006:7), ”Faktor lingkungan berperan sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi kesehatan masyarakat yang buruk termasuk timbulnya berbagai penyakit menular, faktor lingkungan sangat berperan di dalamnya.”
Untuk itu dalam upaya menciptakan masyarakat yang sehat maka manusia harus menjaga kesehatan lingkungan, yaitu lingkungan bebas dari pencemaran seperti pencemaran tanah, udara, air dan lain-lain. Lingkungan yang tercemar  menyebabkan manusia tidak dapat melakukan aktivitasnya dengan baik. Tanah  yang tercemar dengan radioaktif menyebabkan tanah tidak dapat ditanami dengan  tanaman sebagai sumber kebutuhan pangan dan sandang manusia. Air yang  tercemar menyebabkan air tersebut tidak dapat dikonsumsi manusia karena mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Udara yang kotor menyebabkan manusia tidak dapat bernafas dengan segar. Uraian di atas bermakna bahwa lingkungan merupakan salah satu komponen kesehatan yang harus dijaga kebersihan dan kelestariannya. Untuk itu dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat, perlu ditanamkan arti pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sedini mungkin kepada seluruh lapisan masyarakat.




Kesehatan dan lingkungan merupakan wacana yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Kita tidak dapat memungkiri bahwa keadaan lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan suatu komunitas bahkan ekosistem lingkungan tersebut. Begitu pula dengan kesehatan, kesehatan juga berperngaruh terhadap dinamika lingkungan terutama bila dipandang dalam sudut biologis yang akan berdampak pada perubahan aspek sosialnya.
Lingkungan adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan atau kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya ada manusia dan segala tingkah lakunya demi melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia maupun mahkluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya.  

Lingkungan juga memiliki nilai yang berarti ada kandungan yang terdapat dalam lingkungan. Lingkungan yang mempunyai nilai positif, berharga dan dipentingkan dengan sebaik-baiknya, dimana artinya yang berkarakter dan mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai lingkungan dalam menunjang kehidupan, sepeti karakter cinta pada Sang Maha Pencipta dan segenap ciptaan-Nya,begitupun sebaliknya.  Jadi nilai lingkungan yang berharga tersebut sangatlah penting bagi perkembangan semua makhluk untuk bertahan hidup dan untuk beribadah pada Sang Pencipta.
Kesehatan dan lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak asasi manusia dan merupakan bagian dari kesejahteraan. Lingkungan baik fisik, biologi dan sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap derajat kesehatan (welbeing). Menempatkan kesehatan dan lingkungan yang baik dan sehat sebagai hak, maka kesehatan lingkungan memiliki arti penting dan strategis untuk mewujudkan hak dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Perspektif kesehatan  kehidupan manusia tidak terlepas dari kondisi lingkungan. Alam dan lingkungan manusia cukup memberikan kehidupan yang sehat dan lingkungan memiliki dampak besar tehadap derajat kesehatan (welbeing).
Dalam kenyataan didapatkan sanitasi lingkungan masih buruk. Sebagian besar manusia saat ini sudah tidak peduli lagi dengan sesama dan lingkungannya karena merasa berkelimpahan. Setelah sejarah panjang inovasi teknologi dan eksploitasi sumber daya alam, manusia lalu mengalami kritis keterbatasan. Disisi lain, kekuatan yang dimiliki manusia sebenarnya justru merusak, bahkan membunuh manusia sendiri lewat kerusakan ekologik. Pada situasi seperti ini, manusia pada dasarnya sudah mulai kehilangan orientasi dan harapan hidup.
Risiko berupa pudarnya orientasi dan harapan hidup yang mungkin telah dicanangkan, dipersiapkan dan diusahakan selama proses kehidupannya melalui penciptaan bentuk-bentuk peradaban yang digunakan untuk memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam guna keberlangsungan hidup spesies manusia itu sendiri. Manusia lantas terlena dengan potensi dan kekuatannya sendiri dalam merengkuh kenikmatan fasilitas yang diberikan alam dan melupakan satu sisi dalam dirinya sendiri yang sesungguhnya merupakan kelemahan dan sekaligus menjadi kekuatannya, yaitu sikap mental.
Atas dasar itu dalam pendidikan lingkungan setiap persoalan selalu dibahas dalam kaitannya dengan pembangunan dalam meningkatkan kualitas hidup (manusia) secara keseluruhan. Pendidikan etika lingkungan, terutama yang menekankan pada paham ekosentrisme, sangat penting untuk dilakukan dan dan diberikan pada generasi muda. Mengingat merekalah yang kelak akan meneruskan mengelolah alam semesta ini. 

1.2.  TUJUAN
1.        Menjelaskan pengertian tentang perspektif kesehatan .
2.        Menjelaskan teori-teri tentang –teori etika  lingkungan .
3.     Menjelaskan bagaimana perspektif kesehatan terhadap nilai-nilai lingkungan  .









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Pengertian
2.1.1                  Perspektif
Katherine Miller dalam bukunya Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts, mendefinisikan perspektif sebagai cara atau metode untuk melihat atau mengamati berbagai fenomena/keadaan/situasi di sekeliling kita. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa yang dimaksud diatas bukanlah perspektif secara singular tetapi perspektif secara plural atau multi, karenanya sebuah fenomena tidak hanya dapat dilihat dari satu kacamata saja. Sebuah teori (e.g komunikasi) dapat dilihat dari sudut pandang, proses penyaringan dan proses penerangan yang berbeda-beda. Pilihan perspektif yang diambil seseorang memiliki implikasi pada teori dan metodologi yang digunakan dan dikuasai serta dipahami seseorang dalam memahami suatu fenomena atau realitas (Miller, K, 2005).
Dalam hal ini sangat jelas bahwa perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang sesuatu hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara tertentu, dan cara-cara tersebut berhubungan dengan asumsi dasar yang menjadi dasarinya, unsur-unsur pembentuknya dan ruang lingkup apa yang dipandangnya.
Jadi, perspektif adalah bagaimana kita menggunakan pisau analisa berdasarkan kebutuhan, kesesuaian, pengetahuan dan pengalaman kita untuk melakukan pemahaman, memberikan konseptualitas terhadap fenomena dan realitas disekeliling kita.
2.1.2.                Kesehatan
Sedangkan Kesehatan Menurut definisi yang dirumuskan oleh Word Health Organization (WHO), adalah sebagai : ”a state of complete physical, mental and social well being and not merely the absence of disease or infirmity“. (WHO, 1948), adalah keadaan sejahtera fisik, mental, social tanpa ada keluhan sama sekali (cacat atau sakit).
Dalam UU RI Nomor 23 tahun 1992 kesehatan juga dinyatakan mengandung dimensi mental dan social : “Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomi “.
Pengertian lain, kesehatan adalah keadaan seimbang yang dinamis, dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pola hidup sehari-hari seperti makan, minum, seks, kerja, istirahat, hingga pengelolaan kehidupan emosional. Status kesehatan tersebut menjadi rusak bila keadaan keseimbangan terganggu, tetapi kebanyakan kerusakan pada periode-periode awal bukanlah kerusakan yang serius jika orang mau menyadarinya.
Jadi perspektif kesehatan adalah bagaimana kita menggunakan pisau analisa berdasarkan kebutuhan, kesesuaian, pengetahuan dan pengalaman kita untuk melakukan pemahaman, memberikan konseptualitas terhadap fenomena dan realitas disekeliling kita termasuk keadaan seimbang yang dinamis, dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pola hidup sehari-hari seperti makan, minum, seks, kerja, istirahat, hingga pengelolaan kehidupan emosional.

A.      Teori-teori  Etika Lingkungan Hidup

Sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh bagaimana pandangan seseorang terhadap sesuatu itu. Manusia memilki pandangan tertentu terhadap alam, dimana pandangan itu telah menjadi landasan bagi tindakan dan perilaku manusia terhadap alam. Pandangan tersebut dibagi dalam tiga teori utama, yang dikenal sebagai Shallow Environmental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, and Deep Environmental Ethics. Ketigateori ini dikenal juga sebagai Antroposentrisme, Biosentrisme, dan Ekosentrisme.
a.              Antroposentrisme
Dinamakan berdasar kata antropos = manusia, adalah suatu pandanganyang menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Karena pusat pemikiran adalah manusia, maka kebijakan terhadap alam harus diarahkan untuk mengabdi pada kepentingan manusia. Alam dilihat hanya sebagai objek, alat dansarana bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Dengan demikian alam dilihat tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Alam dipandang dan diperlakukan hanyasebagai alat bagi pencapaian tujuan manusia. Namun, dalam sikapnya yang dianggap semena-mena terhadap alam, pandangan ini juga peduli terhadap alam. Manusia membutuhkan lingkunganhidup yang baik, maka demi kepentingan hidupnya, manusia memiliki kewajibanmemeliharan dan melestarikan alamlingkungannya. Kalaupun manusia bersifat peduli terhadap alam, hal itu dilakukan semata-mata demi menjamin kebutuhandan kepentingan hidup manusia, dan bukan atas pertimbangan bahwa alammempunyi nilai pada dirinya sendiri. Teori ini jelas bersifat egoistis, karena hanya mengutamakan kepentingan manusia. Itulah sebabnya teori ini dianggap sebagaisebuah etika lingkungan yang dangkal dan sempit (Shallow EnvironmentalEthics).
b.             Biosentrisme
Adalah suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yangmempunyai nilai dalam dirinya sendiri, lepas dari kepentingan manusia. Dengandemikian, biosentrisme menolak teori antroposentrisme yang menyatakan bahwahanya manusialah yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Teori biosentrisme berpandangan bahwa makhluk hidup bukan hanya manusia saja.Pandangam biosentrisme mendasarkan kehidupan sebagai pusat perhatian.Maka, kehidupan setiap makhluk dibumi ini patut dihargai, sehingga harusdilindungi dan diselamatkan. Biosentrisme melihat alam dan seluruh isinyamemilki harkat dan nilai dalam dirinya sendiri. Alam memiliki nilai justru karenaada kehidupan yang terkandung didalamnya. Manusia hanya dilihat sebagai salahsatu bagian saja dari seluruh kehidupan yang ada dimuka bumi, dan bukanlahmerupakan pusat dari seluruh alam semesta. Maka secara biologis, manusia tidak ada bedanya dengan makhluk hidup lainnya.
c.              Ekosentrisme
Pandangan ini didasarkan pada pemahaman bahwa secara ekologis, baik makhluk hidup maupun benda-benda abiotik saling terkait satu sama lain. Air disungai, yang termasuk abiotik, sangat menentukan bagi kehidupan yang adadidalamnya. Udara, walaupun tidak termasuk makhluk hidup, namun sangatmenentukan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Jadi, ekosentrisme selainsejalan dengan biosentrisme (dimana kedua-duanya sama-sama menentang teoriantroposentrisme) juga mencakup komunitas yang lebih luas, yakni komunitasekologis seluruhnya.
Ekosentrisme disebut juga Deep Environtmental Ethics. Deep ecolog menganut prinsip biospheric egolitarian-ism, yaitu pengakuan bahwa seluruhorganisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatukeseluruhan yang terkait. Sehingga mempunyai suatu martabat yang sama. Inimenyangkut suatu pengakuan bahwa hak untuk hidup dan berkembang untuk semua makhluk (baik hayati maupun non-hayati) adalah sebuah hak universal yang tidak bisa diabaikan.

 


B.       Perspektif Kesehatan tentang Nilai-nilai Lingkungan
Nilai dalam bahasa inggris di sebut dengan value dapat di artikan sebagai, ukuran (pada diri seseorang) tentang sesuatu sikap, kata, situasi, dsb yang  dapat  mempengaruhi perilakunya. Nilai selalu mempunyai kaitan dengan norma atau petunjuk-petunjuk agar mempunyai hidup serta berperilaku yang baik. Nilai masuk dalam bidang kajian  filsafat, yaitu filsafat nilai. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukan kata benda yang abstrak, yang artinya worlh (keberhargaan) atau goodness (kebaikan).
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkari. Lingkungan adalah sekalian yang terlingkup di suatu daerah. Dalam literatur lain, disebutkan bahwa lingkungan ini merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan itu terdiri dari unsur-unsur dari biotik (makhluk hidup), abiotik (benda mati), dan budaya manusia. Jalinan hubungan antara manusia dengan lingkungannya tidak hanya ditentukan dengan jenis dan jumlah makhluk hidup dan benda mati, melainkan juga oleh budaya manusia itu sendiri.
Nilai lingkungan artinya ada kandungan yang terdapat dalam lingkungan. Lingkungan yang mempunyai nilai positif, berharga dan dipentingkan dengan sebaik-baiknya, dimana artinya yang berkarakter dan mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai lingkungan dalam menunjang kehidupan, sepeti karakter cinta pada Sang Maha Pencipta dan segenap ciptaan-Nya. Begitupun sebaliknya. Jadi nilai lingkungan yang berharga tersebut sangatlah penting bagi perkembangan semua makhluk untuk bertahan hidup dan untuk beribadah pada Sang Pencipta
Dalam Perspektif kesehatan, nilai-nilai lingkungan dapat mempengaruhi sikap seseorang, Sikap seseorang yang peduli terhadap lingkungan dan menghargai alam akan mendapatkan dampak positif dari lingkungan. Lingkungan yang baik sangat mempengaruhi keadaan kesehatan seseorang. Bila di kaitkan dengan teori hendr L.Blum Hendrik L. Blum dalam Planning for Health, Development and Application of Social Change Theory secara jelas menyatakan bahwa determinan status kesehatan masyarakat merupakan hasil interaksi domain lingkungan, perilaku dan genetika serta bukan hasil pelayanan medis semata-mata. Kualitas lingkungan merupakan determinan penting terhadap kesehatan masyarakat, penurunan kualitas lingkungan memiliki peran terhadap terjadinya penyakit.
Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang essensial di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah kesehatan masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN
1.        Perspektif adalah bagaimana kita menggunakan pisau analisa berdasarkan kebutuhan, kesesuaian, pengetahuan dan pengalaman kita untuk melakukan pemahaman, memberikan konseptualitas terhadap fenomena dan realitas disekeliling kita.
Kesehatan adalah keadaan seimbang yang dinamis, dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pola hidup sehari-hari seperti makan, minum, seks, kerja, istirahat, hingga pengelolaan kehidupan emosional.
2.    Tiga teori utama tentang etika lingkungan yaitu :  Shallow Environmental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, and Deep Environmental Ethics. Ketiga teori ini dikenal juga sebagai Antroposentrisme, Biosentrisme, dan Ekosentrisme.
3.    Dalam Perspektif kesehatan, nilai-nilai lingkungan dapat mempengaruhi sikap seseorang, Sikap seseorang yang peduli terhadap lingkungan dan menghargai alam akan mendapatkan dampak positif dari lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2091011-pengertian-kesehatan/
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2199030-pengertian-kesehatan-menurut-undang-undang/
Keraf S. A  , 2010. Etika Lingkungan Hidup. Kompas Media Nusantara, Jakarta http://www.saksuk.com/pengertian-kesehatan-lingkungan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar